SELAMAT DATANG di CharrorS Blog# Tempat Belajar# Sharing# dan berbagi Informasi dan Berita

Selamat Datang Di charrors Blog, tempat belajar, tempat berbagi info dan data

Senin, 30 September 2013

peran psikologi dalam pendiidkan

MAKALAH
PERAN PSIKOLOGI DALAM PENDIDIKAN
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu: Sri Suparwi,Dra.M.A


Disusun oleh:
Marselina Murti.M.     (11311055)
Ulfah Rahmawati        (11311056)
Durotun Nasikah         (11311094)

TADRIS BAHASA INGGRIS
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SALATIGA
2013
PENDAHULUAN

Dunia belajar mengajar (dunia pendidikan) merupakan salah satu lahan dari psikologi secara umum. Psikologi pendidikan berperan penting dalam peningkatan mutu siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip psikologi kedalam dunia pendidikan. Psikologi dengan objek manusia (tingkah laku), sedangkan pendidikan berorientasi pada perubahan perilaku siswa, cocok untuk dipadukan dengan harapan mendapatkan perilaku siswa yang diinginkan.
Psikologi dewasa ini semakin menjadi bagian yang sangat sentral pada ilmu pengetahuan dan khususnya dalam dunia pendidikan. Dengan psikologi manusia dapat mempelajari setiap gejala yang terjadi baik itu didalam masyarakat maupun individu pada khususnya. Dalam psikologi terdapat banyak bagian yang terkandung didalamnya salah satunya adalah cabang keilmuan psikologi pendidikan yang banyak berkaitan dengan pendidikan dan didalam pendidikan itu terdapat banyak konsep ilmu diantaranya belajar dan mengajar.
Belajar bukanlah kegiatan yang hanya berlangsung di dalam kelas saja, tetapi juga berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Belajar tidak hanya melibatkan yang benar saja, tetapi juga melibatkan yang tidak benar, misal ada murid yang salah mengeja kata, kita tidak dapat mengatakan bahwa tidak belajar, hanya saja dia mengeja yang salah. Jadi belajar tidaklah selalu dalam hal pengetahuan atau keterampilan, tetapi juga dapat berkenaan dengan sikap, tingkah laku, kejiwaan dan perasaan.
Lain halnya dengan belajar, mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Zamroni (2000:74) mengatakan “guru adalah kreator proses belajar mengajar”. Ia adalah orang yang akan mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik minatnya, mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batas-batas norma-norma yang ditegakkan secara konsisten. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa orientasi pengajaran dalam konteks belajar mengajar diarahkan untuk pengembangan aktivitas siswa dalam belajar.


PEMBAHASAN

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian.
1.      Kontribusi Psikologi Pendidikan Terhadap Pengembangan Kurikulum.
Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar mengajar. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana in put, proses dan out put pendidikan dapat berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.
Secara psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian, kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan serta karakterisktik-karakteristik individu lainnya. Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject matter maupun metode penyampaiannya.
Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.


Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan dengan aspek-aspek:
1)      Kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks;
2)      Pengalaman belajar siswa;
3)      Hasil belajar (learning outcomes), dan
4)      Standarisasi kemampuan siswa.

2.       Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran
Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem pembelajaran. Terdapat dua golongan besar dalam jenis teori belajar, yakni golongan behavioristic yaitu teori belajar stimulus-responatau conditioning theories dan golongan gestalt-field atau cognitive-field theories yaitu teori belajar kognitif. Kedua teori belajar ini di samping mempunyai perbedaan bahkan pertentangan juga mempunyai persamaan. Persamaannya terletak dalam hal pandangannya terhadap manusia sama-sama menggunakan pendekatan ilmiah, keduanya melakukan pendekatan psikologi.
 Sedangkan perbedaannya terletak dalam asumsi mengenai perilaku manusia.Selain itu juga terdapat beberapa teori belajar lagi yaitu connectionism (koneksionisme) yaitu pembentukan atau penguatan hubunganantara S (stimulus) dan R (respon, sambutan) hubungan S-R(Stimulus-Respon) atau antara kesan indera (sense impression) dan impuls (dorongan spontan) untuk bertindak (impulse to action), classical conditioning (pembiasaan klasik) teori ini adalah sebuah prosedur penciptaan reflek baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya reflek tersebut,contiguous conditioning(pembiasaan asosiasi dekat) adalah sebuah teori belajar yang mengasumsikan terjadinya peristiwa belajar berdasarkan kedekatan hubungan antara stimulus dengan respon yang relevan.
Dan social learning theory(teori belajar social) adalah gabungan antara teori belajar behavioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif , dan memandang bahwa perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri.

Terlepas dari pengertian masing masing-masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.
Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni :
1.      Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan
2.      Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.
3.      Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
4.      Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.
5.      Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.
6.      Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
7.      Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.
8.      Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
9.      Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-benar dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.
10.  Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain.
11.  Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
12.  Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
13.  Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.

3.      Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian
Penilaiain pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.
Disamping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya. Kita mengenal sejumlah tes psikologis yang saat ini masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang individu, seperti Multiple Aptitude Test (MAT), Differensial Aptitude Tes (DAT), EPPS dan alat ukur lainnya.
Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal.
Psikologi pendidikan juga dipengaruhi oleh para pendidik (psikolog). Sehingga peran para psikolog sangat diperlukan untuk membentuk karakter peserta didik yang baik.

1.      Pelaksanaan psikologi dalam hal diagnostik disekolah:

a)      Pelaksanaan tes
b)      Melakukan wawancara dengan siswa, guru, orangtua, serta orang-orang yang terlibat dalam pendidikan siswa
c)      Observasi siswa di kelas, tempat bermain, serta dalam kegiatan sekolah lainnya
d)     Mempelajari data kumulatif prestasi belajar siswa.

2.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerumitan dan Luasnya Peran Psikolog di Sekolah

a)Tingkat pelayanan (Jack I. Baron (1982))

·         Tingkat I (psikodiagnostik) meliputi pelayanan tes kecerdasan, kemudian pemberian laporan tertulis yang memberi gambaran kelemahan dan kekuatan yang terungkap oleh tes tersebut.
·         Tingkat II(klinis dan konseling) perhatian psikolog sekolah terhadap anak didik bersifat menyeluruh, yang mana membantu pihak sekolah dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi anak. Pada tingkat ini peran psikolog erat dengan masalah kelompok dalam kelas dan masalah yang berkaitan dengan kelas.
·         Tingkat III(indusrti dan organisasi) dalam hal ini psikolog ikut terlibat dalam tindakan yang menyangkut kebijakan dan prosedur sekolah, dalam pengembangan dan evaluasi program serta pelayanan sekolah,dapat berupa; supervisi, pendidikan, konsulatan bagi karyawan edukatif maupun nonedukatif (membantu malakukan seleksi, penempatan, serta urusan-urusan personalia lain), dan bekarja sama dengan ahli-ahli lain dalam masyarakat
b)      Kegiatan professional
Berpartisipasi dalam diagnosis, intervensi langsung, konsultasi, pendidikan, evaluasi dan pelacakan kembali terhadap hasil penanganan. Semakin tinggi tingkat fungsi pelayanan, maka semakin banyak tugas-tugas pokok dilaksanakan, sedangkan tingkat rendah hanya sibuk dengan pengukuran/ diagnosis, tingkat tertinggi lebih bervariasi fungsinya dan membutuhkan kegiatan professional yang bervariasi juga, berdasar kebutuhan sekolah, bergantung pada kompetensi dan minat psikolognya.
c)      Klien langsung
Berhadapan dengan:
·      Murid secara perorangan, kelompok murid, murid per kelas
·      Guru Secara perorangan, kelompok guru
·      Tenaga administrasi

d)     Tingkat program pendidikan
Terdapat kesulitan dan kerumitan dalam setiap tingkat pendidikan yang ditinjau dari aspek kognisi, bentuk tugas-tugas mengajar, organisasi sekolah dan pengelompokan murid-murid, serta ciri-ciri khas perkembangan dalam masyarakat, berinteraksi dan menghasilkan klien-klien yang berbeda kebutuhan psikologiknya, serta perbedaan harapan dan peran pelayanan psikologik yang diinginkan.
e)      Kekhasan lingkungan masyarakat dan sekolah
Bentuk lain dari fungsi dan tanggung jawab seorang psikolog sekolah bergantung pada:
·      ciri-ciri khas,
·      formal-nonformal,
·      sumberdana sekolah,
·      daerah lokasi sekolah,
·      suku/agama/ ras/ golongan yang memanfaatkan jasa psikolog sekolah.

B.     Peran Psikolog Masyarakat
Dalam hal ini, psikolog masyarakat berfungsi sebagai konsultan luar yang membantu mengembangkan, menyusun program, mendirikan, dan mengevaluasi program pendidikan, bekerjasama dengan personalia sekolah.
C.     Peran Psikolog Pendidikan
Seorang psikolog pendidikan, harus tahu dan memahami kondisi siswanya, memahami perbedaan individual, implikasi perbedaan fisik dan psikologik antara laki-laki dan perempuan, dan perbedaan peran dan harapan antar keduanya. Selain itu, psikolog pendidikan perlu terlibat dalam perencanaan kurikulum dan prosedur mengajar-belajar yang didasari ilmu mengenai belajar dan perlu penelitian-penelitian untuk menguji evektifitas prosedur didalam situasi sekolah.
D.    Peran Psikolog Dalam Pengukuran dan Evaluasi

1.      Pengukuran kesiapan pendidikan, meliputi kemampuan dan keterampilan sebagai prasyaratan yang memungkinkan fasilitas pendidikan pada tingkat pelajaran dengan tes potensi akademik atau tes kemampuan belajar.
2.      Pengukuran prestasi belajar, berfungsi:

a)      Fungsi instruksinal, sebagai umpan balik bagi guru dan siswa, atas keberhasilan atau kegagalan dalam pelajaran atau keperluan perbaikan proses pengajaran.
b)      Fungsi adminisrtatif, meliputi, seleksi dan penempatan sebagai sarana untuk menyaring siswa dalam memenuhi prasyarat yang dibutuhkan atau memasukkan siswa dalam tingkat kelas tertentu.
c)      Fungsi bimbingan, tes juga dapat dijadikan sebagai alat diagnostik psikoedukasional dalam bentuk bimbingan, yang dapat digunakan saat memilih jurusan diperguruan tinggi, menemukan kemampuan-kemampuan yang belum tampak sebelumnya.


PENUTUP

KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa psikologi pendidikan sangat berperan dalam dunia pendidikan. Peran psikologi menentukan akan pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya. Melalui pengukuran psikologis, psikologi memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan. Sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal.
Sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya:
1.       Pengembangan kurikulum,
2.      Sistem pembelajaran dan
3.      Sistem penilaian.
Untuk mencapai tujuan psikologi pendidikan, diperlukan peran kerjasama antar para psikolog, antara lain:
1.      Peran psikolog sekolah,
2.      Peran psikolog masyarakat,
3.      Peran psikolog pendidikan,
4.      Peran psikolog dalam pengukuran dan evalusi.








DAFTAR PUSTAKA

Aulia rahmi.(2008).Peran Psikologi Dalam Pendidikan.

Andi Brilin.(2010).Peran Psikologi Dalam Belajar.

Fani Reza,Iredho.(2012).Peran Psikologi Dalam Pendidikan.





hubungan psikologi pendidikan dengan ilmu lain

HUBUNGAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
DENGAN ILMU LAIN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
Psikologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Dra. Sri Suparwi, M.A








Disusun Oleh :
Risa Suryani                   11311040
Laela Hidayah A            11311046
Alfiatur Rosyida            h          11311049


TADRIS BAHASA INGGRIS
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGARI SALATIGA
2013





Hubungan Psikologi Pendidikan dengan Ilmu Lain

            Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari keadaan manusia, sudah barang tentu mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain, yang sama-sama mempelajari tentang keadaan manusia. Hal ini akan memberi gambaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup tidak hanya dipelajari oleh psikologi saja, tetapi juga dipelajari oleh ilmu-ilmu lain. Manusia sebagai makhluk budaya maka psikologi akan mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu kebudayaan, dengan filsafat, dengan antropologi, sosiologi, biologi, dan lain sebagainya.
A.  Hubungan psikologi pendidikan dengan Filsafat
Psikologi adalah ilmu yang sudah berkembang sejak abad ke 17 dan abad ke 18 serta tampak pesat kemajuannya pada abad ke 20. Pada awalnya ilmu ini adalah bagian dari filsafat, sebagai mana ilmu-ilmu lain, misalnya ilmu hokum, ekonomi, dan sebagainya. Namun kemudian memisahkan diri sebagai ilmu tersendiri, manusia sebagai makhluk hidup juga merupakan objek dari filsafat, yang antara lain membicarakan soal hakikat kodrat manusia, tujuan hidup manusia, dan sebagainya. Sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari filsafat, namun masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat. Bahkan dapat dikemukakan bahwa ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafat itupun tetap masih ada hubungan dengan filsafat, terutama mengenai hal-hal yang menyangkut sifat hakikat serta tujuan dari ilmu pengetahuan.
B.  Hubungan Psikologi pendidikan dengan Antropologi
Antropologi secara etimologi berarti ilmu tentang manusia, antropos berarti manusia, dan logos berarti ilmu. Antropologi sebagai ilmu yang masih muda mempunyai perhatian terhadap semua cabang pengetahuan yang berhubungan dengan manusia, yaitu manusia sebagai gejala biologis dan manusia sebagai makhluk social dan budaya.
Apa yang diselidiki oleh antropologi, sebenarnya juga banbyak yang merupakan obyek-obyek dari psikologi. Psikologi menyelidiki tingkah laku manusia sebagai individu. Untuk mengetahui suatu individu tidak mungkin kita dapat melepaskan diri dari usaha mengetahui bagaimana kebudayaan masyarakat tempat individu itu hidup dan dibesarkan. Sebaliknya, untuk mengetahui suatu kebudayaan tertentu sering kali diperlukan untuk mengerti/mengetahui bagaimana orang-orang/individu-individu dalam masyarakat itu mengalami dan merasakannya. Jadi, psikologi dan antropologi keduanya menyangkut daerah dan masalah-masalah tertentu yang bersamaan, keduanya saling mengisi (suplementer). Berbedaan yang prinsipil hanyalah terletak pada apa yang menjadi tekanannya. Psikologi menekankan pada individu, sadangkan antropologi menekankan pada kelompok.
C.  Hubungan psikologi pendidikan dengan sosiologi
Manusia sebagai makhluk social juga menjadi objek sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia, mempelajari manusia di alam masyarakatnya. Karena itu, baik psikologi maupun sosiologi yang sama-sama membicarakan manusia, tidaklah mengherankan kalau pada suatu waktu adanya titik titik pertemuan di dalam meninjau manusia, misalnya soal tingkah laku. Tinjauan sosiologi yang penting ialah hidup dalam bermasyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologi, bahwa tingkah laku sebagai manifestasi hidup kehijawaan yang didorong oleh moral tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat. Karena danya titik-titik persamaan ini, maka timbullah cabang ilmu pengetahuan dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial.
D.  Hubungan psikologi pendidikan dengan pedagogik
Pedagogik sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati tidak akan sukses, bilamana tidak mendasarkan diri kepada psikologi, yang tugasnya memang menunjukkan perkembangan hidup manusia sepanjang masa, bahkan cirri dan wataknya serta kepribadiannya ditunjukkan oleh psikologi. Dengan demikian, pedagogic baru akan tepat mengenai sasaran, apabila dapat memahami langkah-langkahnya sesuai dengan petunjuk psikologi. Oleh karena itu sangat eratnya tugas antara keduanya, maka timbul educational psikologi (ilmu jiwa pendidikan).
E.   Hubungan psikologi pendidikan dengan agama
Di dalam agama terdapat ajaran tentang bagaimana agar manusia mau menerima petunjuk Tuhannya, sehingga manusia itu sendiri tanpa paksaan bersedia menjadi hamba-Nya yang baik dan taat. Itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa di dalam agama itu penuh dengan unsur-unsur pedagogis yang bahkan merupakan esensi pokok dari tujuan agama diturunkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Unsur pedagogis dalam agama tidak dapat mempengaruhi manusia kecuali bilamana disampaikan kepadanya sesuai dengan petunjuk-petunjuk psikologi, dalam hal ini psikologi pendidikan.
            Contoh bahwa psikologi dan agama mempunyai hubungan erat dalam memberikan bimbingan manusia adalah terhadap manusia yang berdosa pada manusia yang melanggar norma tersebut dapat mengakibatkan perasaan nestapa dalam dirinya meskipun hukuman lahirnya tidak diberikan terhadapnya.
F.   Hubungan psikologi pendidikan dengan ilmu pengetahuan alam
Ilmu pengetahuan  alam mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologi. Dengan memisahka diri dengan filsafat, ilmu pengetahuan alam mengalami kemajuan yang cukup cepat, hingga ilmun pengetahuan alam menjadi contoh bagi perkembangan ilmu-ilmu lain termasuk psikologi, khususnya metode ilmu pengetahuan mempengaruhi perkembangan metode dalam psikologi, karenanya sebagian ahli berpendapat, kalau psikologi ingin mendapatkan kemajuan haruslah mengikuti kerja yang ditempuh ilmu pengetahuan alam. Apa yamng ditempuh oleh Fechner dan Weber sangat mempengaruhi cara kerja Wilhelm Wundt, yakni dengan menggunakan metode psikofisik, yaitu metode yang tertua dalam lapangan psikologi eksperimental, yang banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan alam (Wood Worth, 1951).
Kenyataan, bahwa karena pengaruhg ilmu oengetahuan alam, psikologi mendapatkan kemajuan yang sangat cukup depat, sehingga akhirnya psikologi dapat diakui sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri terlepas dari filsafat, walaupun pada akhirnya, metode ilmu pengetahuan alam ini tidak seluruhnya digunakan dalam lapangan psikologi, oleh karena perbedaan dalam objeknya. Sebab ilmu pengetahuan alam berobjekkan manusia yang hidup, sebagai makhluk yang dinamik, berkebudayaan, tumbuh berkembang, dan dapat berubah pada setiap saat.
G.  Hubungan psikologi pendidikan dengan biologi
Biologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kehidupan berarti bahwa semua benda yang hiduo menjadi objek biologi. Oleh karena itu biologi berobjekkan benda-benda yang hidup, maka cukup banyak ilmu-ilmu yang tergabung di dalamnya. Maka baik biologi maupun psikologi sama-sama mmbicarakan manusia. Sekalipun masing-masing ilmu itu meninjau dari sudut yang berlainan namun segi-segi tertentu, kedua ilmu itu ada titik-titik pertemuan. Biologi maupun antropologi, keduanya yidak mempelajari perihal proses-proses kejiwaan, dan inilah yang dipelajari oleh psikologi.



















Kesimpulan

                        Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari keadaan manusia, sudah barang tentu mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain, yang sama-sama mempelajari tentang keadaan manusia. Hal ini akan memberi gambaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup tidak hanya dipelajari oleh psikologi saja, tetapi juga dipelajari oleh ilmu-ilmu lain. Manusia sebagai makhluk budaya maka psikologi akan mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu kebudayaan, dengan filsafat, dengan antropologi, sosiologi, biologi, dan lain sebagainya.


















Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono.2004.Psikologi Pendidikan.Jakarta:Rineka Cipta.
Sarwono, Sarlito Wirawan.1976.Pengantar Umum Psikologi.Jakarta:Bulan Bintang.
Hasan, Chalijah.1994.Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan.Surabaya:Al-Ikhlas.